Jangan malu bermimpi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mewujudkan mimpinya. Pernyataan ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya menanggapi kajian yang dibuat oleh Yayasan Indonesia Forum (YIF) pekan lalu. Yayasan yang dipimpin bos Trans TV Chairul Tanjung itu yakin Indonesia pada tahun 2030 akan masuk lima besar dunia dalam pendapatan perkapita. Meski itu dengan berbagai syarat seperti ekonomi tumbuh rata-rata 7,62 persen.
Ketika mimpi ini dilontarkan, sambutan pesimis datang dari berbagai kalangan. Beberapa pengamat ekonomi menyebut cita-cita masuk lima besar dunia sebagai negara maju adalah mustahil. Apalagi di rezim orde baru cita-cita Indonesia menjadi negara maju sudah pernah diapungkan, tetapi gagal. Perekonomian Indonesia justru kini malah terpuruk dan bisa disejajarkan dengan negara miskin lain.
Tapi tunggu dulu, bukankah berbagai keajaiban buatan manusia di bumi ini berawal dari sebuah mimpi? Penjelajahan di luar angkasa tidak pernah terjadi, jika tidak ada orang yang bermimpi dan yakin bahwa manusia bisa melakukan itu. Pesawat terbang tidak akan pernah tercipta bila tidak ada orang yang bermimpi manusia bisa tebang seperti burung. Teknologi pesan pendek melalui telepon genggam atau sms tidak pernah tercipta bila tidak ada orang bermimpi membuat alat komunikasi jarak jauh bagi orang yang tidak mampu mendengar.
Kesalahan mungkin bukan terletak dari cita-cita atau mimpi yang diucapkan, tapi bagaimana usaha mewujudkan mimpi-mimpi itu. Di rezim orde baru umpamanya, cita-cita menjadi negara maju dibangun dengan fondasi ekonomi yang rapuh. Subsidi besar-besaran dilakukan untuk membuat harga minyak murah, bank mengucurkan kredit tanpa memperdulikan sama sekali prinsip kehati-hatian. Dan jangan lupa praktek KKN yang merajalela hampir di semua sektor pada saat itu.
Kini Presiden SBY di sisa masa pemerintahannya atau masa jabatan kedua kalau dia terpilih lagi, punya kesempatan membangun fondasi lebih baik untuk menjadikan Indonesia sejajar dengan negara maju pada 2030. Ada banyak cara membangun fondasi itu, misalnya angka kemiskinan harus dikurangi secara drastis, begitu juga pengangguran. Pelayanan publik diperbaiki, sehingga masyarakat bisa mengurus berbagai keperluan dengan lebih cepat dan tanpa harus membayar pungutan liar. Uang hasil pajak tidak dikorup tapi dipergunakan benar-benar untuk kepentingan rakyat. Dan aparat hukum bekerja secara profesional.
Kalau fondasi sudah dibangun baik, menjadikan Indonesia sebagai negara maju bukan lagi sebuah mimpi yang tidak mungkin tercapai.
Monday, March 26, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment