Tuesday, April 3, 2007
Kekerasan IPDN
Apa yang salah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri, IPDN? Kekerasan di sekolah yang dulunya bernama STPDN seakan tidak bisa dihentikan. Terakhir seorang siswa bernama Cliff Muntu tewas setelah dianiaya seniornya. Dikutip dari Tempointeraktif, salah seorang dosen IPDN mengatakan, dari hasil otopsi rumah sakit terungkap, dada Cliff retak akibat pukulan. Pukulan itu memberi bekas menghitam yang menembus hingga jantung. Luka itulah yang diduga menyebabkan Cliff tewas
Tewasnya Cliff Muntu membuat kita kembali teringat peristiwa serupa pada 2003 ketika siswa STPDN Wahyu Hidayat tewas dianiaya seniornya. Tak lama setelah peristiwa itu berbagai stasiun televisi nasional kemudian menayangkan rekaman video kekerasan-kekerasan yang terjadi di dalam kampus STPDN.
Kita kemudian dibuat tidak habis fikir, bagaimana mungkin sekolah yang diharapkan menghasilkan pejabat-pejabat di birokrasi pemerintahan justru dididik soal kekerasan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara wisuda siswa IPDN dua tahun lalu pernah mengatakan, kekerasan yang dilakukan oleh para praja senior kepada praja yunior di IPDN tidak akan membawa arti. Sebab, jika praja muda ini nantinya akan menjadi pemimpin dalam jajaran birokrasi pemerintahan, faktor utama yang membuat mereka dihormati masyarakat adalah kemampuan yang dimiliki, kewibawaan dan daya persuasi. Bukan dengan kekuatan yang otoriter apalagi kekerasan.
Sayang, ajakan Presiden SBY tidak diindahkan. Budaya kekerasan di kampus itu begitu kuat untuk dihilangkan hanya dengan ajakan simpatik. Beberapa upaya lain sebenarnya sudah dilakukan seperti menyatukan siswa angkatan tingkat pertama STPDN ke Kampus Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Juga mengganti nama STPDN menjadi IPDN. Tapi tetap kekerasan terus terjadi di kampus itu.
Kesalahan semata-mata tentu tidak bisa diletakkan kepada para siswa yang melakukan kekerasan. Seluruh pendidik di kampus IPDN juga harus mulai mengkoreksi diri. Bagaimana bisa kasus kekerasan terus terjadi didalam lingkungan kampus tanpa mereka ketahui.
Lebih penting dari itu, evaluasi proses belajar mengajar di IPDN perlu dilakukan dengan lebih serius. Kekerasan di dalam kampus apapun bentuknya harus segera dihentikan. Kalaupun langkah-langkah perbaikan masih saja gagal dilakukan, menutup IPDN perlu dilakukan untuk mengakhiri rantai kekerasan di kampus itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment