Mungkin kita tak pernah membayangkan, ada seorang guru harus mengajar enam kelas sekaligus. Jumlah siswa yang mesti diasuh pun mencapai ratusan orang. Di pulau Jawa, barangkali ini pemandangan langka. Tapi di Papua dan Irian Jaya Barat sungguh itu peristiwa lumrah.
Ambil contoh Sekolah Dasar Susua di Distrik Mare, Sorong Selatan.Seorang guru dalam dua tahun terakhir harus mengajar sendirian seratusan siswa kelas satu sampai enam. Ia sampai harus membuat jadwal masuk bergiliran untuk setiap kelas supaya ia bisa mengajar semua murid-muridnya. Di SD Inpres Sangram, Fakfak Timur hal yang sama juga terjadi. Di sekolah itu, hanya tersedia satu tenaga pengajar untuk seratusan siswa.
Kalau ditanya apa penyebab kurangnya tenaga pengajar di tanah Papua, jawabannya mudah ditebak: kesejahteraan yang kurang. Memang pemerintah memberikan insentif 2,7 juta rupiah bagi setiap guru yang mau mengajar didaerah pedalaman Papua. Tapi jumlah itu tidaklah cukup. Anggota DPR dari daerah pemilihan Papua, Inya Bay menuturkan untuk membangun satu rumah di Papua, biayanya sama besar dengan membangun tiga rumah di Pulau Jawa. Belum lagi soal biaya transportasi antardaerah yang begitu mahal. Kalau dipaksakan gaji guru-guru itu bisa habis hanya untuk biaya transportasi.
Dengan kondisi seperti ini bagaimana kita berharap pendidikan di tanah Papua bisa maju?
Memang sempat muncul siswa-siswa berprestasi dunia di bidang pendidikan dari Papua seperti George Saa dan Surya Bonai. Tapi itu adalah sebuah perkecualian dari buruknya kualitas pendidikan di wilayah ini.
Untuk mengatasi permasalahan itu tidak ada jalan lain, kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Pemerintah pusat dan daerah harus memberikan insentif lebih besar kepada para guru agar mau mengajar di daerah pedalaman. Departemen Pendidikan Nasional perlu lebih berkonsentrasi mencari langkah-langkah terobosan supaya guru betah mengajar di daerah terpencil. Itu lebih urgen dilakukan daripada sibuk membuat RUU Kebahasaan yang mengatur banyak hal remeh temeh.
Perlahan infrastuktur di Papua juga harus serius dibenahi, supaya guru-guru di pedalaman tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos transportasi yang mahal untuk mengambil gaji di kota. Gedung-gedung sekolah perlu diperbaiki, buku-buku pelajaran harus cukup tersedia dan mudah dibeli.
Jika itu sudah dilakukan, dalam beberapa tahun kedepan bukan tidak mungkin lebih banyak pelajar dari tanah Papua berprestasi di tingkat dunia seperti George Saa dan Surya Bonai.
Friday, January 26, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment