Wednesday, January 31, 2007

Sepak Bola Tanpa APBD

Organisasi tertinggi Sepakbola Indonesia, PSSI, akhirnya memutuskan untuk menunda kompetisi Liga Indonesia selama sepekan dari jadwal semula 3 Februari. Penundaan terjadi setelah ada peringatan dari Departemen Dalam Negeri agar tidak ada satupun pemerintah daerah mengucurkan dana bagi klub-klub sepakbola. Departemen Dalam Negeri beranggapan pemberian bantuan kepada klub sepakbola memakai dana APBD tanpa sebelumnya ada pengajuan anggaran, melanggar Peraturan Pemerintah No 58/2005 tentang pengelolaan keuangan daerah. Kalau peringatan itu tidak diindahkan, maka kepala pemerintah daerah bisa dianggap melakukan korupsi.

Peringatan ini membuat kecut para pemimpin daerah. Para pemilik klub pun ramai-ramai melakukan penolakan. Ini bisa dimaklumi, karena selama ini hampir semua klub sepakbola yang berlaga di kompetisi Indonesia bergantung pada kucuran dana pemerintah daerah. Di divisi utama contohnya, dari 36 klub hanya empat klub saja yang benar-benar berusaha hidup mandiri tanpa bantuan pemerintah.

Meski terkesan menghambat kemajuan sepakbola, larangan dari Depdagri ini sejatinya perlu didukung. Karena sudah terlalu lama sebenarnya klub-klub di Indonesia dimanjakan oleh dana APBD. Padahal jumlahnya pun tidak sedikit. Setiap klub yang berlaga di divisi utama rata-rata mendapat 20 milyar rupiah untuk setiap musim kompetisi. Parahnya tidak pernah ada satupun klub yang mempertanggungjawabkan uang APBD yang mereka gunakan. Padahal diluar dana APBD, klub-klub itu juga diperbolehkan mencari pemasukan lain melalui sponsor.

Saat ini, mungkin sudah waktunya pengelola klub sepakbola Indonesia belajar dari negara lain yang memiliki kompetisi lebih maju. Di Inggris, Italia ataupun Spanyol sepakbola sudah menjadi sebuah industri. Masing-masing klub hidup dari penjualan tiket, sponsor kaos dan penjualan cindera mata. Setiap klub yang akan mengikuti kompetisi diaudit terlebih dulu untuk mengetahui, apakah mereka sehat dari sisi keuangan.

Kalau perbandingan itu terasa terlalu jauh, coba lihat negara tetangga, Singapura. Sepuluh tahun lalu tidak ada yang menghitung Singapura di kancah sepakbola Asia Tenggara. Tapi dengan kompetisi profesional yang diberi nama S-League, tim nasional Singapura kini menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan.

Menjadikan sepakbola Indonesia sebagai sebuah industri bukan tidak mungkin. Setiap pertandingan umpamanya puluhan ribu orang selalu memadati stadion. Itu merupakan modal sangat besar.

Intinya klub Indonesia harus mengubah cara berfikir. Sudah saatnya mereka berusaha menjadi klub yang benar-benar profesional, dalam segala hal. Sulit memang, itu pasti..Tapi memang tidak pernah ada cara mudah untuk mencapai prestasi. Mandiri dan transparan dalam soal keuangan adalah salah satu langkahnya.

No comments: