Saturday, March 24, 2007

Menghapus Curiga

Kenapa berbeda agama membuat kita menjadi saling curiga? Dari Nanggroe Aceh Darussalam kita mendengar kabar, pemuatan gambar gereja dan salib pada buku Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia menjadi sebuah permasalahan serius. DPRD dan kalangan ulama memprotes peredaran buku itu. Mereka beranggapan ada upaya menyesatkan umat Islam dengan peredaran buku itu. Muncul kemudian isu kristenisasi, sampai polisi lalu memutuskan menarik buku itu dari peredaran.

Tapi mari kita sekarang berfikir jernih. Apa hanya karena sampul buku, apapun bentuknya, orang kemudian bisa berubah memeluk agama lain? Sebagai perbandingan saja, ada banyak sekali album musik penyanyi atau grup barat yang covernya memakai lambang salib atau lambang agama lain dijual di Indonesia. Atau lebih ekstrem, ada banyak sekali film yang mengambil gambar di gereja atau rumah ibadah lain seperti kuil shaolin. Tapi tidak pernah rasanya ada orang yang berpindah ke agama Budha gara-gara melihat film kungfu Shaolin.

Di Indonesia, hubungan antar agama memang dianggap sebagai sesuatu yang sensitif. Lantaran dianggap terlalu sensitif, banyak orang takut membicarakan terbuka soal ini. Akibatnya yang muncul adalah berbagai kecurigaan. Parahnya, para pemuka agama yang seharusnya menjadi pembimbing umat justru membakar kecurigaan-kecurigaan itu dengan dakwah provokatif. Hasilnya kemudian adalah gesekan antar warga dengan latar belakang agama yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.

Karena itu, sudah saatnya kita menghapus rasa curiga yang muncul antar umat beragama. Beberapa upaya sebenarnya sudah dilakukan, meski belum pada skala yang besar dan tanpa terlalu banyak sorotan.

Salah satunya adalah apa yang dilakukan Pimpinan Pondok Pesantren Shiratul Fuqoha, Sepanjang, Malang, Jawa Timur, Muhammad Najib Ghoni. Gus Najib, begitu ia akrab disapa, mencoba membangun pengertian antar umat beragama dengan cara unik. Secara rutin ia mengirimkan santri-santrinya untuk tinggal di gereja, pura atau tempat ibadah agama lain. Disana mereka diminta mengamati dan berdialog dengan pemeluk agama tempat para santri itu tinggal. Sebaliknya, Gus Najib juga menerima para pemeluk agama lain yang ingin mondok di pesantrennya. Program yang sudah berlangsung selama delapan tahun ini bisa dibilang sukses. Karena dialog antar mereka yang berbeda agama benar-benar terjadi. Sehingga sedikit demi sedikit kecurigaan yang tertanam antar masing-masing pemeluk agama berbeda terkikis.

Tapi tentu saja Gus Najib tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Perlu ada usaha-usaha sama yang dilakukan di berbagai daerah untuk menjalin dialog antar umat berbeda agama, menghapuskan berbagai kecurigaan yang ada. Sehingga suatu saat nanti, konflik dengan latar belakang agama hanya diingat sebagai sebuah sejarah kelam bangsa Indonesia dan tidak akan pernah terjadi lagi.

No comments: