Friday, March 9, 2007

Janji SBY

Mungkin kita harus mengingatkan kembali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan janjinya. Di akhir tahun 2006 SBY berjanji, tahun 2007 akan bekerja dengan lebih konkret serta menggunakan bahasa terang. Tidak boleh ada dusta lagi diantara kita, katanya.

Tapi belum 3 bulan janji itu diucapkan, kita belummelihat tanda-tanda SBY menepati janji. Ambil contoh kasus termutakhir, konflik antara Mensesneg Yusril Ihza Mahendra dan KPK. Komisi anti korupsi ini sebelumnya memeriksa Yusril dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat pemindai sidik jari. Dalam pemeriksaan itu ditemukan Yusril ketika menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM menyetujui penunjukan langsung pengadaan alat pemindai itu tanpa persetujuan presiden. Tapi Yusil lantas balik menyerang soal penunjukan langsung pengadaan alat penyadap KPK, meski kita tahu pengadaan alat itu ternyata sudah disetujui presiden atas rekomendasi Yusril sebagai Menteri Sekretaris Negara.

Apa yang dilakukan Pesiden menghadapi perseteruan itu? Tak ada ketegasan siapa yang bersalah.

Contoh lain adalah soal desakan pengunduran diri Menteri Perhubungan Hatta Radjasa. Setelah terjadi berbagai kecelakaan transportasi umum, muncul desakan agar Hatta meletakkan jabatannya. Tapi Hatta menyerahkan semuanya kepada presiden. Lalu apa jawaban presiden? Diam, setidaknya hingga saat ini.

Banyak pengamat mengatakan, SBY terlihat begitu peragu karena ia ingin menyenangkan semua pihak. Ia sadar posisinya lemah di DPR. Partai Demokrat yang sejak awal mendukung SBY hanya berada di posisi kelima dalam perolehan kursi DPR. Partai Demokrat hanya memperoleh 57 kursi, berbeda jauh dengan urutan pertama Partai Golkar yang mendapat 128 kursi. Ini membuat SBY berusaha sekuat mungkin menjaga koalisi partai yang selama ini mendukung pemerintahannya. Wajar jika kemudian Wakil Presiden dan Ketua Partai Golkar Jusuf Kalla dengan jumawa di depan anggota legislatif Partai Demokrat mengajari SBY, apa yang harus dilakukan jika ingin terpilih lagi sebagai presiden pada 2009.

Presiden barangkali perlu diingatkan, ia menduduki jabatan orang nomer satu karena dipilih oleh 60 persen warga yang menggunakan hak pilihnya pada 2004. Bukan semata-mata dukungan partai-partai politik. Karena itu Presiden tak perlu menyenangkan semua pihak. Sikap ragu-ragu yang selama ini ditunjukkan SBY, justru akan membuat sang presiden kehilangan popularitas di mata pemilihnya. Tentu SBY tidak suka itu terjadi jika ingin terpilih kembali di pemilihan presiden 2009.

Kita ingatkan sekali lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memenuhi janjinya. Bekerja lebih konkret, menggunakan bahasa terang, tidak ada lagi dusta diantara kita.

No comments: